Mojokerto,lensaindo.id – Aktivitas tambang galian C di kawasan lahan pertanian Dusun Sambikerep, Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto memicu penolakan dari warga dan mahasiswa. Mereka mendatangi lokasi tambang dan mendesak agar kegiatan penggalian segera dihentikan karena dinilai berpotensi merusak lahan pertanian serta jaringan irigasi yang mengairi sawah para petani, Rabu (11/3/26).
Penolakan tersebut muncul karena para petani khawatir aktivitas penggalian akan merusak saluran irigasi yang selama ini menjadi sumber air bagi lahan pertanian di dua desa.
Salah satu warga, Sultoni, mengatakan keberadaan tambang galian C sangat dikhawatirkan berdampak buruk terhadap keberlangsungan pertanian di wilayah tersebut.
“Warga terutama para petani menolak adanya tambang galian C ini karena berpotensi merusak irigasi. Kalau diteruskan, tanah bisa menjadi tandus dan sawah tidak bisa ditanami lagi,” ujarnya.
Berdasarkan keterangan warga, aktivitas penambangan mulai beroperasi sejak Sabtu (7/3/26). Namun kegiatan tersebut diduga dilakukan tanpa koordinasi dengan masyarakat maupun pemerintah desa setempat.
Sultoni menjelaskan, lokasi galian memang berada di wilayah Dusun Sambikerep, Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari. Akan tetapi jalur irigasi yang terdampak justru mengalir ke area persawahan di Dusun Sumberpandan, Desa Mojotamping, Kecamatan Bangsal.
Kepala Desa Mojotamping, Sumanan, menegaskan pihaknya tidak pernah menerima laporan atau permohonan izin terkait aktivitas penambangan tersebut.
“Sejak awal tidak ada laporan ke desa. Setelah muncul gejolak di masyarakat, kami memanggil kelompok tani ke kantor desa. Hasilnya semua petani Dusun Sumberpandan menolak adanya tambang galian C ini,” katanya.
Ia menilai kegiatan tersebut berpotensi merusak lahan pertanian warga. Karena itu, pemerintah desa bersama masyarakat sepakat meminta agar aktivitas penambangan dihentikan.
“Saya memutuskan aktivitas ini dihentikan dan alat berat ditarik dari lokasi. Warga benar-benar tidak setuju karena dampaknya bisa merusak sawah. Dulu sudah pernah ditolak, sekarang kok masuk lagi,” tegasnya.
Penolakan terhadap tambang galian C tersebut juga mendapat dukungan dari mahasiswa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Mojokerto. Mereka datang ke lokasi sebagai bentuk pendampingan terhadap warga yang menolak aktivitas penambangan.
Perwakilan PMII Mojokerto, Fikri Ahmad, mengatakan kedatangan mereka merupakan tindak lanjut dari aksi demonstrasi yang sebelumnya digelar di Polres Mojokerto.
“Warga mengeluh dengan adanya tambang galian C ini. Kami datang untuk melakukan pendampingan sekaligus mendorong penutupan aktivitas tambang tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Kapolres Mojokerto AKBP Andi Yudha Pranata saat dikonfirmasi wartawan lensaindo.id mengatakan pihaknya akan segera membahas persoalan tersebut bersama tim terpadu.
“Siang ini akan dibahas bersama tim terpadu yang dipimpin langsung oleh Bupati Mojokerto untuk menentukan langkah selanjutnya,” kata AKBP Andi Yudha Pranata.(erick)

















