Mojokerto,lensaindo.idSelembar kain polos di tangan orang biasa mungkin hanya tampak sebagai lembaran tanpa makna. Namun, di tangan para peserta pelatihan eco print di Kabupaten Mojokerto, kain tersebut disulap menjadi karya seni bernilai ekonomi hanya dengan memanfaatkan dedaunan dan pewarna alami.
Suasana kreatif itu terlihat di Gedung Serbaguna Dinas Perpustakaan Kabupaten Mojokerto, Jalan RA Basoeni, Kecamatan Sooko, Sabtu (25/7/2026). Sebanyak 17 peserta dari berbagai daerah mengikuti pelatihan mozaik eco print, sebuah teknik menghias kain menggunakan motif alami dari tumbuh-tumbuhan yang dipadukan dengan pola-pola artistik.
Mentor Eco Print Mojokerto, Mohammad Hasyim Sutaji, mengatakan pelatihan kali ini mengajarkan peserta mengolah kain polos menjadi kain bermotif dengan memanfaatkan bentuk dan warna asli dedaunan.
“Hari ini kami belajar bersama bagaimana memotif kain polos menggunakan tanaman yang dikombinasikan dengan berbagai bentuk unik. Hasilnya, kain polos berubah menjadi kain bermotif dengan corak alami dari tumbuhan yang dipadukan dengan motif-motif lainnya,” ujar Hasyim.
Ia menjelaskan, eco print merupakan teknik pewarnaan sekaligus pembentukan motif pada kain yang sepenuhnya menggunakan bahan-bahan alami. Berbeda dengan teknik konvensional, eco print tidak memanfaatkan pewarna sintetis sehingga lebih ramah lingkungan.
“Eco print adalah teknik memotif atau mewarnai kain menggunakan pewarna alami. Jadi motif yang dihasilkan benar-benar berasal dari tumbuh-tumbuhan tanpa tambahan pewarna sintetis,” jelasnya.
Pelatihan tersebut diikuti 17 peserta yang berasal dari berbagai daerah, mulai Mojokerto, Jombang, Surabaya, Lumajang hingga Nganjuk. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa kerajinan eco print semakin diminati sebagai peluang usaha kreatif berbasis lingkungan.
Menurut Hasyim, pelatihan semacam ini tidak hanya bertujuan mengembangkan keterampilan, tetapi juga mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya kaum perempuan.
“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat memberdayakan ibu-ibu. Di waktu luang mereka bisa berkarya menghasilkan kain bermotif yang unik dan memiliki nilai jual tinggi, sehingga dapat membantu meningkatkan perekonomian keluarga,” katanya.
Hasyim menambahkan, Mojokerto menjadi salah satu daerah pelopor pengembangan eco print di Indonesia. Sejak tahun 2017, berbagai pelatihan telah digelar dan menarik minat peserta dari berbagai daerah di Tanah Air.
“Mojokerto merupakan pionir eco print sejak 2017. Saat ini Mojokerto menjadi salah satu pusat pembelajaran eco print yang didatangi peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Kami juga mendapat dukungan dan difasilitasi oleh Dinas Perpustakaan Kabupaten Mojokerto,” tuturnya.
Sementara itu, salah satu peserta pelatihan asal Surabaya, Nur Aini, mengaku senang bisa mengikuti pelatihan tersebut karena akhirnya memahami teknik membuat eco print secara mandiri.
“Alhamdulillah saya akhirnya mengerti bagaimana caranya membuat eco print. Sekarang saya bisa membuat sendiri dan nanti hasilnya bisa dipakai bersama keluarga saat Lebaran,” ungkap Aini.
Menurutnya, pelatihan seperti ini menjadi kegiatan yang positif sekaligus membuka peluang untuk berkarya di rumah. Selain mengisi waktu luang, keterampilan membuat eco print juga dinilai mampu menghemat pengeluaran karena produk sejenis di pasaran memiliki harga yang cukup tinggi.
“Saya senang sekali ada kegiatan seperti ini. Jadi ada kesibukan yang bermanfaat, tidak hanya melihat drakor saja. Selain itu, kalau beli kain eco print harganya mahal. Kalau bisa membuat sendiri dan hasilnya memuaskan, tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya,” pungkasnya.
Melalui pelatihan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang teknik membatik ramah lingkungan, tetapi juga membuka peluang untuk mengembangkan usaha kreatif berbasis potensi alam. Kain yang semula polos pun berubah menjadi produk bernilai seni sekaligus memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan.(erick)

















