Petani Sambiroto Kembangkan Sistem Tanam Padi Modern, Bidik Panen 10 Ton per Hektare

PPL kecamatan sooko bersama poktan Sri Rejeki 1 desa sambiroto setelah melakukan tanam benih langsung.(foto:erick)
banner 120x600

Mojokerto,lensaindo.id – Petani di Desa Sambiroto, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, mulai mengembangkan sistem pertanian modern dengan memanfaatkan alat tanam hasil modifikasi sendiri. Inovasi tersebut diharapkan mampu mempercepat proses tanam, menekan biaya operasional, sekaligus mendongkrak produktivitas padi hingga mencapai 10 ton per hektare.

Penerapan PMAAS (Pertanian Modern Advance Agrikultur Sistem) itu berlangsung pada Kamis (29/10/2026). Para petani memanfaatkan metode *Tabela* atau tanam benih langsung dengan dukungan alat yang dirancang sesuai kebutuhan di lapangan.

banner 325x300

Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Sooko, Nur Saifuddin, mengatakan penerapan sistem tersebut menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan produksi padi, khususnya di wilayah Kecamatan Sooko.

“Melalui penerapan sistem ini, kami berharap produktivitas padi bisa meningkat hingga 10 ton per hektare. Petani juga mendapatkan bantuan benih dari pemerintah sebanyak 70 kilogram per hektare untuk mendukung penanaman dengan metode Tabela,” ungkap Nur Saifuddin.

Menurutnya, inovasi yang lahir dari kreativitas petani tersebut perlu terus dikembangkan agar proses budidaya padi semakin efektif dan mampu memberikan hasil yang lebih optimal. Ia berharap peningkatan produktivitas pertanian dapat berjalan seiring dengan meningkatnya kesejahteraan petani.

“Harapannya, petani semakin sejahtera dan makmur,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sri Rejeki 1, Budi, menjelaskan bahwa penggunaan alat tanam hasil modifikasi petani dapat membantu mempercepat pekerjaan di sawah. Inovasi tersebut juga menjadi solusi atas keterbatasan tenaga kerja yang selama ini menjadi salah satu kendala dalam proses penanaman padi.

Menurut Budi, petani harus mencari cara agar kegiatan tanam tetap berjalan efektif meskipun tenaga kerja semakin sulit diperoleh. Penggunaan alat tersebut sekaligus diharapkan dapat menekan biaya operasional yang harus ditanggung petani.

“Dengan alat yang kami modifikasi sendiri, waktu tanam bisa lebih efisien. Apalagi sekarang tenaga kerja untuk menanam cukup sulit didapat. Di sisi lain, penggunaan alat ini juga bisa membantu menekan biaya operasional,” kata Budi.

Meski demikian, alat yang digunakan petani saat ini masih berstatus pinjam pakai dari Balai Penyakit Pertanian. Karena itu, kelompok tani berencana mengajukan proposal bantuan kepada dinas terkait agar ke depan dapat memiliki dukungan peralatan yang memadai untuk menunjang kegiatan pertanian.

Pengembangan teknologi sederhana berbasis kreativitas petani ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mendorong pertanian yang lebih efisien di Kecamatan Sooko. Dengan dukungan benih, peralatan, dan pendampingan yang tepat, petani diharapkan mampu meningkatkan hasil panen sekaligus mengurangi beban biaya produksi.(erick)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *