Mojokerto,lensaindo.id – Panitia Wonorejo Carnival akhirnya memberikan klarifikasi terkait isu adanya wartawan yang disebut tidak diperbolehkan masuk ke lokasi karnaval budaya di Desa Wonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Panitia menegaskan acara tersebut terbuka untuk umum dan tidak pernah memberlakukan tiket masuk bagi pengunjung maupun awak media.
Ketua Panitia Wonorejo Carnival, Agung Prasetyo, mengatakan pihaknya justru menyambut baik kehadiran insan pers untuk meliput rangkaian kegiatan budaya yang digelar masyarakat Desa Wonorejo.
“Teman-teman media yang ingin meliput cukup menunjukkan kartu identitas atau ID card. Tidak ada biaya masuk untuk wartawan maupun masyarakat,” kata Agung, Selasa (30/6/2026).
Menurutnya, kemungkinan terjadi kesalahpahaman di lapangan karena petugas pengamanan meminta setiap orang yang masuk menunjukkan identitas sesuai kategori masing-masing.
Agung menjelaskan, warga Desa Wonorejo cukup memperlihatkan KTP saat memasuki area karnaval. Sementara warga yang tinggal di kos atau kontrakan telah dibekali kartu khusus dari Pemerintah Desa. Adapun peserta pawai dan penampil diwajibkan membawa tanda pengenal atau keplek yang telah dibagikan panitia.
“Mungkin kemarin ada teman-teman media yang tidak bisa menunjukkan ID card, sehingga terjadi miskomunikasi dengan petugas di lapangan,” ujarnya.
Ia menegaskan, panitia sama sekali tidak menjual tiket masuk. Biaya yang dipungut selama acara berlangsung hanyalah tarif parkir kendaraan yang dikelola untuk mengakomodasi membludaknya jumlah pengunjung.
“Acara Wonorejo Carnival gratis untuk umum. Karena pengunjung diperkirakan mencapai ribuan orang, kami hanya menyediakan lahan parkir agar masyarakat nyaman saat menikmati acara,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan, panitia menyiapkan lima titik kantong parkir yang tersebar di sejumlah wilayah. Di antaranya kawasan Kejagan dan Kupang masing-masing menyediakan sekitar 700 kupon parkir, sedangkan kawasan Pakem, Prayan, Kalitangi, dan Pandansili masing-masing disiapkan sekitar 500 kupon.
Agus mengungkapkan, berdasarkan hasil rapat panitia, tarif parkir ditetapkan sebesar Rp20 ribu untuk sepeda motor dan Rp30 ribu untuk mobil. Dari nominal tersebut, panitia hanya menerima Rp5 ribu dari 700 kupon sebagai kontribusi penyelenggaraan acara.
“Kalau kupon dari panitia sudah habis tetapi masih ada kendaraan yang parkir, hasilnya menjadi hak petugas parkir. Sebab, yang membantu menjaga parkir juga bukan hanya warga Wonorejo, tetapi kami meminta bantuan warga dari desa sekitar,” terangnya.
Agus berharap klarifikasi tersebut dapat meluruskan informasi yang sempat beredar. Ia menegaskan panitia tidak pernah membatasi akses wartawan dan justru mengapresiasi peran media dalam mempublikasikan kegiatan budaya yang digelar masyarakat.
“Kami sangat terbuka dan senang jika teman-teman media datang meliput. Kemungkinan yang terjadi kemarin hanya miskomunikasi karena petugas meminta identitas. Yang jelas, Wonorejo Carnival tidak menyediakan tiket masuk dan seluruh masyarakat dipersilakan menikmati acara secara gratis,” pungkasnya.
Di lokasi yang sama, Kepala Desa Wonorejo, Supariati, juga membantah adanya pungutan tiket masuk seperti yang ramai diperbincangkan. Ia menegaskan Pemerintah Desa Wonorejo tidak pernah menyediakan ataupun menjual tiket masuk karena kegiatan tersebut merupakan hiburan rakyat yang terbuka bagi siapa saja.
“Wonorejo Carnival memang tidak menyediakan tiket masuk. Acara ini gratis untuk masyarakat umum,” tegas Supariati.
Meski demikian, demi menjaga keamanan, ketertiban, dan kelancaran kegiatan yang dihadiri ribuan pengunjung, panitia menerapkan sejumlah aturan, termasuk pengaturan identitas bagi peserta, warga, dan awak media serta penataan area parkir.
“Kami hanya ingin kegiatan berjalan aman, tertib, dan kondusif. Karena itu ada beberapa aturan yang harus dipatuhi seluruh pengunjung selama acara berlangsung,” ujarnya.
Panitia dan Pemerintah Desa berharap klarifikasi tersebut dapat meluruskan informasi yang berkembang di masyarakat. Mereka menegaskan tidak pernah membatasi kerja jurnalistik dan justru berharap media terus berperan mempublikasikan kegiatan budaya yang menjadi kebanggaan warga Desa Wonorejo.(erick)

















